Masih ingat berita beberapa tahun lalu di mana seorang pengacara terkenal Andrew Speaker di adukan ke pengadilan Kanada karena tetap terbang ke Eropa walaupun sudah dilarang oleh dokternya. Masalahnya bukan karena si Andrew Speaker tidak membayar tiket pesawat hingga penumpang marah tetapi yang membuat marah penumpang pesawat lain karena si Andrew Speaker juga membawa kuman Multi Drug Resistan Tuberculosis (MDR-TB) yaitu kuman TB yang sudah resistan terhadap obat TB alias penderita MDR-TB. Penumpang pesawat lain tersebut merasakan ketakutan TB yang diderita Andrew Speaker akan menyebar saat berada di satu pesawat. Bagi dokter, kejadian tersebut memberikan satu pelajaran untuk menambah pengetahuan tentang TB dan penerbangan sejalan dengan meningkatnya pengguna pesawat dalam menjalankan aktifitasnya. Saat ini bukan sesuatu yang mewah jika seorang petani kaya dipedalaman Sumatera atau di Papua naik pesawat ke Singapura untuk jalan-jalan atau sekedar check kesehatan
.
Saat ini masih menjadi perdebatan hangat tentang penularan dari seorang penderita TB ke penumpang lain atau crew pesawat saat penerbangan. Beberapa dokumen memperlihatkan terdapat resiko penularan pada individu yang sensitif tetapi beberapa dokumen lain gagal memperlihatkan hubungan antara penderita TB saat di pesawat dengan penularan pada penderita lain. Walaupun ada perdebatan, tetapi ada beberapa hal yang disepakati yaitu :
- Indeks penularan : telah disepakati suatu indeks untuk risiko penularan dari penderita TB. Indeks ini dinilai berdasarkan penemuan kuman TB melalui dahak 3x (pemeriksaan sputum), kultur sputum (dahak di tanam di cawan petri untuk melihat kuman TB tumbuh atau tidak), pemeriksaan rontgen. Dari ketiga hal diatas ada 4 tingkatan resiko/indeks penularan yaitu :
- Level 0: penderita ekstrapulmonar TB (penderita TB selain paru dan kelenjar limfe)–>risiko penularan sangat rendah atau bisa diabaikan.
- Level 1 : hasil sputum BTA dan kultur TB negatif –>risiko penularan rendah
- Level 2 : hasil sputum BTA negatif tetapi kultur TB positif –> risiko penularan sedang
- Level 3 : hasil sputum BTA, kultur serta hasil rontgen memberikan hasil positif –>risiko penularan tinggi
- Lama penerbangan: tentunya semakin lama penerbangannya maka risiko penularan semakin tinggi, dan WHO memberikan batasan antara 6-8 jam. Pada penerbangan short flight (<6jam, risiko penularan rendah) sedangkan long flight (>6jam, risiko penularan tinggi.
- Pengobatan penderita TB: pada penderita TB yang tidak minum obat, tidak selesai atau gagal pengobatan maka risiko untuk menularkan pada penumpang lain sangat tinggi.
Silahkan baca juga: Rekomendasi WHO untuk pencegahan dan penularan TB selama penerbangan
No related posts.