Mengenal TB kelenjar

Tubercular_adinitis_with_sinusTidak dapat dipungkiri bahwa Tuberkulosis(TB) merupakan patogen yang banyak menimbulkan penyakit pada paru serta juga organ lain. Selain paru, TB dapat juga menyerang tulang (spondilitis TB), meningeal (meningitis TB), pleural (pleuritis TB), kelenjar limfe(limfeadenitis TB) dll.

Diantara organ selain paru yang paling banyak diserang TB ini adalah kelenjar limfe (lymph node). Diantara lokasi kelenjar limfe maka daerah cervical (sekitar leher) merupakan lokasi tersering terjadi limfadenitis TB, selanjutnya di ketiak (axilla), inguinal, dinding dada bahkan dapat juga mediastinum (rongga dada). Biasanya tuberkulosis menyebar ke kelenjar limfe, biasanya diawali oleh infeksi di paru yang kemudian mengalami reaktivasi. Reaktivasi TB dapat terjadi disaat kondisi imun yang menurun dan menyebar ke organ sekitar.

Secara klinis, infeksi TB pada kelenjar limfe dapat berupa pembesaran kelenjar yang tidak begitu nyeri yang bersifat hilang timbul. Pembesaran kelenjar tersebut berbatas tegas, diskrit tetapi jika tidak di obati dapat besifat fluktuatif seperti cold abscses dan lama kemudian dapat membentuk semacam terongon ke kulit luar.

Untuk diagnosis, untuk daerah yang tidak mempunyai fasilitas mencukupi biasa dapat menegakan diagnosis berdasarkan klinis, tetapi walaupun begitu sangat direkomendasikan untuk melakukan biopsi jarum halus (FNAB). Dari hasil FNAB ini biasanya dilakukan pemeriksaan mycobacterium tuberkulosis baik untuk BTA (Basil tahan asam) saja atau dapat juga dilakukan kultur. Untuk kondisi tertentu dapat dilakukan biopsi jaringan jika pembesaran KGB tersebut diragukan dengan kemungkinan diagnosis lain.

Mengenai pengobatan (ini yang paling banyak ditanyakan), pada prinsipnya sama dengan pengobatan pada Tuberkulosis paru. Saat ini direkomendasikan pengobatan dengan menggunakan obat paru lini pertama (selain injeksi streptomycin) dengan kombinasi 4 obat selama 2 bln dan dilanjutkan INH, Rifampicin selama 4 bln. Atau dapat diberikan dengan kombinasi 3 jenis obat dan dilanjutkan dengan INH dan Rifampicin selama 7 bulan. Mengenai suntikan streptomycin untuk limfadenits maka saat ini tidak direkomendasikan oleh WHO. Hal ini juga dibuktikan oleh BTS (British Thoracic Society) yang melakukan clinical trial menggunakan suntikan streptomycin dan hasilnya memperlihatkan tidak jauh lebih baik dibanding kombinasi HRZE (INH, Rifampicin, Pyrazinamid dan Etambutol).