Jumlah obat TB sudah berkurang..

OAT FDC+Penderita TB di Indonesia dari tahun ke tahun belum juga dapat dikurangi. Indonesia tetap mencatat “prestasi” menjadi juara 4 penderita TB terbanyak di dunia. Sedih memang… dan beberapa peneliti mencatat bahwa salah satu penyebabnya adalah pengobatan TB yang lama (minimal 6 bulan) dan harus memakan obat dalam jumlah yang banyak, sehingga menyebabkan banyak pasien tidak melanjutkan pengobatan/berhenti ditengah pengobatan dan dapat menulari ke orang lain. Salah satu usaha untuk mengurangi hal tersebut adalah berupa pemakaian obat kombinasi TB dalam satu pil sehingga jumlah pil yang dimakan tiap hari berkurang dan lebih memudahkan pasien untuk mengingatnya, walaupun lama pengobatan tetap sama. Inovasi ini cukup diacungi jempol dan diharapkan penemuan obat TB yang lebih poten dapat segera ditemukan.

Obat TB dapat dibagi atas obat lini pertama seperti Rifampisin, INH, Ethambutol, Pyrazinamid, Streptomycin, PAS dan lini kedua seperti Ofloxacin, Ciprofloxacin dll. Obat yang sering diminum biasanya terdiri atas Rifampisin, INH, Pyrazinamid dan Ethambutol dimana setiap pasien biasanya dapat meminum total 7 atau lebih pil dari gabungan obat-obat tersebut. Sehingga sering dalam keseharian pasien sudah “ngeri” duluan dalam meminum obat dan kadang membingungkan karena banyaknya jenis dan jumlah obat. Untuk itu sekarang pasien TB tidak akan takut lagi minum obat TB karena kombinasi keempat obat tersebut sudah dikemas menjadi satu pil walaupun nanti pil Kombinasi dosis tetap (KDT) tersebut akan diberikan sesuai Berat badan pasien. Sebagai contoh penderita TB baru dengan BB 49 maka diberikan pil KDT 3 butir setiap hari. Lebih mudah bukan?..