Bagaimana jika ada penderita tuberkulosis paru dalam pesawat..

airline AND TBPerjalanan pesawat saat ini sudah bukan kebutuhan bagi si kaya saja tapi sudah menjadi kebutuhan banyak masyarakat. Dalam 50 tahun terakhir terjadi peningkatan yang berlipat ganda jumlah penumpang pesawat terbang. Pada tahun 1949 diperkirakan hanya 30 juta penumpang yang melakukan perjalan pesawat tapi saat ini sudah tercatat lebih dari 500 juta penumpang melakukan perjalanan pesawat terbang. Kebanyakan penumpang pesawat internasional berasal dari negara berkembang seperti India dan Indonesia yang memiliki penderita tuberkulosis paru yang cukup tinggi.

Tuberkulosis merupakan penyakit yang dapat mengenai semua organ terutama paru yang penularannya bersifat airborne (udara) melalui droplet. Lalu bagaimana dengan kemungkinan penularan TB paru jika terdapat salah satu penumpang menderita TB paru?bisakah menular?. Pesawat terbang saat ini sudah dilengkapi dengan sistem ventilasi yang dilengkapi dengan filter. Dengan kemampuan filter ini maka mikroorganisme yang berukuran lebih besar dari 0.3 mikron dapat dibuang. Ukuran basil tuberkulosis diperkirakan antara 0.5-1 mikron sehingga jika sistem ventilasi bekerja baik maka kemungkinan penularan semakin kecil. Dalam sebuah laporan investigasi sebuah maskapai penerbangan yang ditumpangi oleh enam penumpang TB aktif dengan dua penumpang kebal obat ganda (MDR) memperlihatkan penularan terjadi pada satu penumpang lainnya yang bersama-sama melakukan perjalanan lebih dari 8 jam dan duduk persis disamping penderita TB paru aktif tersebut.

Pasien TB paru aktif tentunya memiliki resiko menularkan kuman TB nya sehingga sangat dianjurkan untuk tidak melakukan perjalanan pesawat terutama untuk jarak jauh. Tetapi tentu saja larangan tersebut sulit untuk dipraktekan walaupun maskapai penerbangan berhak melarang bahkan pilot dapat menolak seseorang demi keselamatan penumpang dan crew lainnya. Untuk itu World Health Organization (WHO) memberikan panduan bahwa penderita TB paru dapat melakukan perjalanan pesawat jika sudah mendapatkan terapi anti TB minimal 2 minggu untuk pasien TB paru yang masih sensitif terhadap obat-obat anti TB. Untuk penderita TB MDR masih menjadi dilema karena pengobatannya yang lama dan kemungkinan keberhasilan terapinya yang belum optimal.

Sehingga kita dapat berkesimpulan bahwa ada risiko penularan tuberkulosis di pesawat terbang walaupun rendah terutama bagi perjalanan pesawat melebihi 8 jam. Perlu kesadaran penumpang pesawat yang menderita TB paru aktif untuk menjalani pengobatan secara tuntas untuk mecegah penularan dan dianjurkan selama pengobatan tidak menjalani perjalanan pesawat.