Pemeriksaan fungsi paru untuk mencegah komplikasi pasca operasi

Bagi masyarakat terutama yang belum mendapat informasi yang cukup maka kata “operasi” dianggap sesuatu yang maha angker. Penyebab keangkeran tersebut disebabkan stigma bahwa operasi sangat erat kaitannya dengan kematian atau minimal kesakitan yang ditimbulkan oleh tindakan operasi tersebut. Memang tidak dapat disalahkan stigma diatas bahwa tindakan operasi seringkali menyebabkan peningkatan mortaliti (kematian) dan morbiditi (kesakitan). Kejadian peningkatan morbiditi dan mortaliti tersebut lebih disebabkan karena komplikasi yang timbul pasca operasi. Komplikasi yang paling banyak terjadi dari tindakan operasi umumnya adalah komplikasi kardio (jantung)-respirasi (pernapasan). Tidak dipungkiri sistem kardiovaskuler dan respirasi merupakan sistem yang banyak mengalami perubahan selama dan sesudah operasi. Sehingga pemeriksaan fungsi paru pra-operasi memegang peranan penting dalam memperkirakan resiko serta komplikasi yang mungkin terjadi. Dengan begitu diharapkan sebelum komplikasi itu terjadi maka sudah ada usaha atau tindakan yang dilakukan dokter dalam mengantisipasinya terutama tentunya pencegahannya.

Pemeriksaan fungsi paru yang paling banyak dilakukan adalah pemeriksaan dengan alat spirometer, yang pemeriksaannya sendiri disebut tes spirometri. Pemeriksaan spirometri dilakukan untuk memeriksa volume dan kapasiti paru. Dalam hal ini dapat kita bedakan atas yang bersifat statis dan dinamis. Tetapi nilai tes spirometri yang paling banyak manfaatnya adalah nilai VEP1 (Volume ekspirasi detik pertama), kapasiti vital paksa (KVP) dan rasio VEP1/KVP. Kenapa tiga komponen menjadi sangat penting? karena informasi ketiga komponen tersebut ditambah bentuk grafik flow-volume memberikan informasi untuk dokter paru bahwa pasien yang diperiksa mempunyai fungsi paru yang normal, restriksi (gangguan pengembangan paru) atau obstruksi (hambatan pernapasan). Dengan kata lain nilai volume paru dan grafik flow-volume tersebut membantu dokter paru dalam menilai kemampuan mekanik saluran pernapasan yang sangat berpengaruh dalam tindakan operasi terutama operasi di rongga dada dan perut. Pemeriksaan fungsi paru ditambah dengan penilai terhadap kemampuan difusi gas (trasnfer gas-DLCO) dilengkapi dengan pemeriksaan gas darah meningkatkan kemampuan dokter paru dalam memprediksi komplikasi serta mortaliti yang mungkin terjadi selama dan sesudah pembedahan.

spirometri resultMakanya pasien-pasien yang akan melakukan pembedahan terutama operasi rongga dada dan perut dikonsulkan ke dokter paru oleh sejawat dokter bedah untuk melihat resiko terutama kaitan dengan respirasi selama dan sesudah operasi. Semoga masyarakat memahami kenapa sebelum operasi dokter bedah meminta pasien untuk bertemu serta melakukan pemeriksaan fungsi paru.

Semoga bermanfaat!