Penyakit tuberkulosis (TB) sudah dikenal sejak awal manusia memasuki jaman sejarah. Dulu dianggap TB paru tidak dapat disembuhkan sampai pertengahan abad ke-20. Sekitar sembilan dari sepuluh pasien terinfeksi TB tidak akan berlanjut menjadi ‘sakit’ TB paru. Dan lima dari sepuluh pasien yang sakit TB akan mengalami penyembuhan spontan.
Artikel ini akan menjelaskan kepada pembaca bagaimana cara terjadinya TB kebal obat dan sedikit berbicara faktor-faktor yang berperan pada TB kebal obat.
Nasib pasien TB paru berubah dramatis ketika diperkenalkan obat anti-TB pertama kalinya pada tahun 1940-an. Ketika itu penyakit TB paru diobati dengan obat tunggal yaitu streptomisin saja. Dan memang menghasilkan perbaikan klinis yang nyata sekali pada pasien. Setelah beberapa lama penggunaan obat tunggal ini, kuman tuberculosis banyak yang kemudian menjadi kebal, atau resisten, terhadap obat streptomisin.
Kemudian dimasukkannya isoniazid kedalam regimen (paduan obat) antituberkulosis. Hasilnya? Beberapa lama kemudian ditemukanlah kuman yang kebal terhadap isoniazid. Sampai saat ini sejarah mencatat kemudian muncul kekebalan kuman TB terhadap obat anti-TB yaitu streptomisin, isoniazid, rifampisin dan bahkan flurokuinolon. Sebagai contoh flurokuinolon yang populer adalah siprofloksasin yang umum digunakan jika kita terkena diare.
Bagaimana mungkin kuman TB yang tadinya sensitif (bisa dibunuh oleh obat anti-TB) berubah menjadi kebal (sulit dibunuh obat anti-TB)?
Para peneliti menemukan bahwa dalam suatu populasi kuman TB, ternyata kumannya tidak sama persis. Mereka berbeda dalam kesensitifan terhadap obat anti-TB. Sebagai contoh adalah pirazinamid, salah satu obat anti-TB. Dalam suatu populasi kuman TB ada yang sensitif terhadap obat pirazinamid dan ada yang kebal terhadap obat pirazinamid. Populasi kuman yang sensitif pirazinamid ini jumlahnya mendominasi keseluruhan populasi kuman pada seorang pasien. Sedangkan yang kebal pirazinamid jumlahnya sedikit karena kalah bersaing dengan yang sensitif pirazinamid. Nah, kuman sensitif yang awalnya berjumlah banyak dan mendominasi inilah yang paling banyak dibunuh oleh obat pirazinamid. Namun perhatikan disini bahwa kuman dominan yang dapat dibunuh pirazinamid populasinya langsung menurun drastis. Apa akibatnya? Yang terjadi kemudian adalah populasi yang kebal terhadap pirazinamid jumlahnya meningkat perlahan-lahan.
Inilah yang menjelaskan mengapa penyakit TB tidak boleh diobati oleh hanya satu obat saja (disebut monoterapi). Karena dampaknya merugikan sekali yaitu memberikan kesempatan populasi kuman yang kebal obat untuk tumbuh. Oleh sebab itu pengobatan penyakit TB harus menggunakan paduan obat, yaitu beberapa obat yang diminum bersamaan untuk periode waktu tertentu. Salah satu contoh paduan obat anti-TB lini pertama adalah rifampisin, isoniazid, pirazinamid dan etambutol. Jadi pada kasus diatas tadi, maka kuman yang kebal terhadap pirazinamid akan dibunuh oleh rifampisin. Kuman yang kebal terhadap rifampisin akan dibunuh oleh, misalnya, isoniazid. Begitu seterusnya sehingga menjadikan kombinasi obat anti-TB yang terdiri dari beberapa obat tersebut seperti tentara terstruktur rapi yang memiliki target kuman yang jelas. Dengan demikian keseluruhan populasi kuman TB pada seorang penderita dapat dibunuh dan pasien dapat sembuh.
Hingga saat ini, hampir tidak ada dokter yang mengobat TB hanya dengan satu obat, namun tidak sedikit kita jumpai mantra-mantri di daerah yang mengobati TB hanya dengan, misalnya, menyuntikkan streptomisin. Hasilnya kita bisa tebak, yaitu tidak lama kemudian kuman dalam tubuh pasiennya akan kebal terhadap streptomisin. Jika kemudian kita menambahkan, misalnya, rifampisin saja pada pasien yang telah kebal streptomisin ini, maka sama saja kita menambah daftar baru obat yang tidak mempan. Jadi jika kita hanya menambah satu persatu obat anti-TB pada orang yang sebelumnya menggunakan hanya satu obat, itu berakibat membuat obat-obat berikutnya menjadi ikutan tidak mempan.
Secara umum faktor terjadinya TB kebal obat dibagi menjadi tiga faktor, yaitu faktor program, faktor obat dan faktor pasien. Apa saja faktor program itu yang bisa menyumbang terjadinya TB kebal obat? Antara lain ketiadaan pedoman, pedoman yang tidak tepat, tidak patuh terhadap pedoman, kurang pelatihan tenaga kesehatan, tidak ada monitor pengobatan dan manajemen program yang kurang baik.
Nah beberapa faktor obat yang juga penting adalah tidak tersedianya obat, kualitas rendah, penyimpanan obat tidak baik, dosis dan kombinasi obat tidak tepat. Sedangkan faktor pasien yang tidak boleh diabaikan adalah tidak patuh berobat, kurang informasi, tidak tersedianya obat gratis, mengalami efek samping obat, hambatan sosial dan ekonomi, gangguan pencernaan berupa malabsorbsi, dan penyalahgunaan obat.
Ketika kita sudah memahami proses terjadinya kuman TB kebal obat dan faktor-faktor yang berperan dalam kemunculannya, maka kita juga mengerti bahwa mengatasi TB kebal obat bukan hanya beban dokter saja. Seorang pasien yang berobat teratur hingga tuntas, misalnya, enam bulan, dan menelan jumlah tablet yang tepat (dosis cukup) maka dia telah berperan besar dalam mencegah terjadinya daftar baru penderita TB kebal obat.
Jadi hendaknya kita lihat baik-baik daftar penyebab terjadinya TB kebal obat, lalu teliti mana yang menjadi bagian kita untuk berperan. Lalu segera ambil tindakan.
Jika semua komponen bangsa ini berfokus pada “apa yang bisa saya lakukan” maka Insya Allah Indonesia akan menjadi role model dan bisa mengajari dunia bagaimana solusi mengatasi TB kebal obat.
Maukah kita berbuat?